Laman

Kamis, 05 April 2012

AMERIKA BERHUTANG KEPADA INDONESIA

“Considering this statement, which was written and signed in Novemver, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the following total volumes were just obtained.”

Itulah sepenggal kalimat yang menjadi berkah sekaligus kutukan bagi bangsa Indonesia hingga kini. Kalimat itu menjadi kalimat penting dalam perjanjian antara Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dengan Soekarno pada 1963.
Soekarno dan John F. Kennedy

Soekarno dan John F. Kennedy

Banyak pengamat Amerika melihat perjanjian yang kini dikenal dengan nama “The Green Hilton Agreement” itu sebagai sebuah kesalahan bangsa Amerika. Tetapi bagi Indonesia, itulah sebuah kemenangan besar yang diperjuangkan Bung Karno. Sebab volume batangan emas tertera dalam lembaran perjanjian itu terdiri dari 17 paket sebanyak 57.150 ton lebih emas murni.

Bahasa lain yang sering dikemukakan Bung Karno kepada rekan terdekatnya, bahwa ia ingin harta nenek moyang yang telah dirampas oleh imprealisme dan kolonialisme dulu bisa kembali. Tetapi perjanjian yang diteken itu, hanya sebatas pengakuan dan mengabaikan pengembaliannya. Sebab Negeri Paman Sam itu mengambilnya sebagai harta pampasan perang dunia I dan II. Konon cerita, harta itu dibawa ke Belanda dari Indonesia, kemudian Belanda kalah perang dengan Jerman, maka Jerman memboyong harta itu ke negaranya. Lalu dalam perang dunia kedua, Jerman kalah dengan Amerika, maka Amerika membawa semua harta itu ke negaranya hingga kini.

Perjanjian itu berkop surat Burung Garuda bertinta emas di bagian atasnya yang kemudian menjadi pertanyaan besar pengamat Amerika. Yang ikut serta menekan dalam perjanjian itu tertera John F. Kennedy selaku Presiden Amerika Serikat dan William Vouker yang berstempel “The President of The United State of America” dan dibagian bawahnya tertera tandatangan Soerkarno dan Soewarno berstempel “Switzerland of Suisse.” Yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah, mengapa Soekarno tidak menggunakan stempel RI. Pertanyaan itu sempat terjawab, bahwa beliau khawatir harta itu akan dicairkan oleh pemimpin Indonesia yang korup, kelak.

Perjanjian yang oleh dunia moneter dipandang sebagai pondasi kolateral ekonomi dunia hingga kini, menjadi perdebatan panjang yang tak kunjung selesai pada kedua negara, Indonesia dan Amerika. Banyak para tetua dan kini juga anak muda Indonesia dengan bangganya menceritakan bahwa Amerika kaya karena dijamin harta rakyat Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan, Amerika berhutang banyak pada rakyat Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah dan bukan punya negara Indonesia, melainkan harta rakyat Indonesia. Tetapi, bagi bangsa Amerika, perjanjian kolateral ini dipandang sebagai sebuah kesalahan besar sejarah Amerika.
The Green Hilton Agreement 1963.

The Green Hilton Agreement 1963.

Barangkali ini pulalah penyebab, mengapa Bung Karno kemudian dihabisi karir politiknya oleh Amerika sebelum berlakunya masa jatuh tempo The Green Hiltom Agreement. Ini berkaitan erat dengan kegiatan utama Soeharto ketika menjadi Presiden RI ke-2. Dengan dalih sebagai dalang PKI, banyak orang terdekat Bung Karno dipenjarakan tanpa pengadilan seperti Soebandrio dan lainnya. Menurut tutur mereka kepada pers, ia dipaksa untuk menceritakan bagaimana ceritanya Bung Karno menyimpan harta nenek moyang di luar negeri. Yang terlacak kemudian hanya “Dana Revolusi” yang nilainya tidak seberapa. Tetapi kekayaan yang menjadi dasar perjanjian The Green Hilton Agreement ini hampir tidak terlacak oleh Soeharto, karena kedua peneken perjanjian sudah tiada.

Kendati perjanjian itu mengabaikan pengembaliannya, namun Bung Karno mendapatkan pengakuan bahwa status koloteral tersebut bersifat sewa (leasing). Biaya yang ditetapkan Bung Karno dalam perjanjian sebesar 2,5% setahun bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya. Dana pembayaran sewa kolateral ini dibayarkan pada sebuah account khusus atas nama The Heritage Foundation yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh Bung Karno sendiri atas restu yang dimuliakan Sri Paus Vatikan. Namun karena Bung Karno “sudah tiada” (wallahuallam), maka yang ditunggu adalah orang yang diberi kewenangan olehnya. Namun sayangnya, ia hanya pernah memberikan kewenangan pada satu orang saja di dunia dengan ciri-ciri tertentu. Dan inilah yang oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, bahwa yang dimaksudkan adalah Satria Piningit yang kemudian disakralkan, utamanya oleh masyarakat Jawa. Tetapi kebenaran akan hal ini masih perlu penelitian lebih jauh.

April 2009, dana yang tertampung dalam The Heritage Foundation sudah tidak terhitung nilainya. Jika biaya sewa 2.5% ditetapkan dari total jumlah batangan emasnya 57.150 ton, maka selama 34 tahun hasil biaya sewanya saja sudah setera 48.577 ton emas. Artinya kekayaan itu sudah menjadi dua kali libat lebih, dalam kurun kurang dari setengah abad atau setara dengan USD 3,2 Trilyun atau Rp 31.718 Trilyun, jika harga 1 gram emas Rp 300 ribu. Hasil lacakan terakhir, dana yang tertampung dalam rekening khusus itu jauh lebih besar dari itu. Sebab rekening khusus itu tidak dapat tersentuh oleh otoritas keuangan dunia manapun, termasuk pajak. Karenanya banyak orang-orang kaya dunia menitipkan kekayaannya pada account khusus ini. Tercatat mereka seperti Donald Trump, pengusaha sukses properti Amerika, Raja Maroko, Raja Yordania, Turki, termasuk beberapa pengusaha besar dunia lainnya seperti Adnan Kassogi dan Goerge Soros. Bahkan Soros hampir menghabiskan setengah dari kekayaannya untuk mencairkan rekening khusus ini sebelumnya.

Pihak Turki malah pernah meloby beberapa orang Indonesia untuk dapat membantu mencairkan dana mereka di pada account ini, tetapi tidak berhasil. Para pengusaha kaya dari organisasi Yahudi malah pernah berkeliling Jawa jelang akhir 2008 lalu, untuk mencari siapa yang diberi mandat oleh Bung Karno terhadap account khusus itu. Para tetua ini diberi batas waktu oleh rekan-rekan mereka untuk mencairkan uang tersebut paling lambat Desember 2008. Namun tidak berhasil.

Usaha pencairan rekening khusus ini bukan kali ini saja, tahun 1998 menurut investigasi yang dilakukan, pernah dicoba juga tidak berhasil. Argumentasi yang diajukan tidak cukup kuat. Dan kini puluh orang dan ratusan orang dalam dan luar negeri mengaku sebagai pihak yang mendapat mandat tersebut. Ada yang usia muda dan ada yang tua. Hebatnya lagi, cerita mereka sama. Bahwa mereka mengaku penguasa aset rakyat Indonesia, dan selalu bercerita kepada lawan bicaranya bahwa dunia ini kecil dan dapat mereka atur dengan kekayaan yang ia terima. Ada yang mengaku anak Soekarno. lebih parah lagi, ada yang mengaku Soekarno sunggguhan tetapi kini telah berubah menjadi muda. Wow.

Padahal, hasil penelusuran penulis. Bung Karno tidak pernah memberikan mandat kepada siapapun. Dan setelah tahun 1965, Bung Karno ternyata tidak pernah menerbitkan dokumen-dokumen atas nama sipulan pun. Sebab setelah 1963 itu, owner harta rakyat Indonesia menjadi tunggal, ialah Bung Karno itu sendiri. Namun sayang, CUSIP Number (nomor register World Bank) atas kolateral ini bocor. Nah, CUSIP inilah yang kemudian dimanfaatkan kalangan banker papan atas dunia untuk menerbitkan surat-surat berharga atas nama orang Indonesia. Pokoknya siapapun, asal orang Indonesia berpassport Indonesia dapat dibuatkan surat berharga dari UBS, HSBC dan bank besar dunia lainnya. Biasanya terdiri dari 12 lembar, diantaranya ada yang berbentuk Proof of Fund, SBLC, Bank Guransi, dan lainnya. Nilainya pun pantastis. rata-rata diatas USD 500 juta. Bahkan ada yang bernilai USD 100 milyar.

Ketika dokumen tersebut dicek, maka kebiasaan kalangan perbankkan akan mengecek CUSIP Number. Jika memang berbunyi, maka dokumen tersebut dapat menjalani proses lebih lanjut. Biasanya kalangan perbankkan akan memberikan bank Officer khusus bagi surat berharga berformat ini dengan cara memasan Window Time untuk sekedar berbicara sesama bank officer jika dokumen tersebut akan ditransaksikan. Biasanya dokumen jenis ini hanya bisa dijaminkan atau lazim dibuatkan rooling program atau privcate placement yang bertempo waktu transaksi hingga 10 bulan dengan high yeild berkisar antara 100 s/d 600 % setahun. Uangnya hanya bisa dicairkan untuk proyek kemanusiaan. Makanya, ketika terjadi musibah tsunami di Aceh dan gempa besar lainnya di Indonesia, maka jenis dokumen ini beterbangan sejagat raya bank. Tapi anehnya, setiap orang Indonesia yang merasa nama tercantum dalam dokumen itu, masih miskin saja hingga kini. Mengapa? Karena memang hanya permainan banker kelas kakap untuk mengakali bagaimana caranya mencairkan aset yang terdapat dalam rekening khusus itu.

Melihat kasus ini, tak heran bila banyak pejabat Indonesia termasuk media massa Indonesia menyebut “orang gila” apabila ada seseorang yang mengaku punya harta banyak, milyaran dollar Amerika Serikat. Dan itulah pula berita yang banya menghiasi media massa. Ketidakpercayaan ini satu sisi menguntungkan bagi keberadaan harta yang ada pada account khusus ini, sisi lain akan membawa bahaya seperti yang sekarang terjadi. Yakni, tidak ada pembelaan rakyat, negara dan pemerintah Indonesia ketika harta ini benar-benar ada.

Kasih sedih itu terjadi. Presiden SBY ikut serta dalam pertemuan G20 April silam. Karena Presiden SBY tidak pernah percaya, atau mungkin ada hal lain yang kita belum tau, maka SBY ikut serta menandatangani rekomendasi G20. Padahal tekenan SBY dalam sebuah memorandum G20 di London itu telah diperalat oleh otoritas keuangan dunia untuk menghapuskan status harta dan kekayaan rakyat Indonesia yang diperjuangkan Bung Karno melalui kecanggihan diplomatik. Mengapa, karena isi memorandum itu adalah seakan memberikan otoritas kepada lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World Bank untuk mencari sumber pendanaan baru bagi mengatasi keuangan global yang paling terparah dalam sejarah ummat manusia.

Atas dasar rekomendasi G20 itu, segera saja IMF dan World Bank mendesak Swiss untuk membuka 52.000 rekening di UBS yang oleh mereka disebut aset-aset bermasalah. Bahkan lembaga otoritas keuangan dunia sepakat mendesak Vatikan untuk memberikan restu bagi pencairan aset yang ada dalam The Heritage Foundation demi menyelamatkan ummat manusia. Memang, menurut sebuah sumber terpercaya, ada pertanyaan kecil dari Vatikan, apakah Indonesia juga telah menyetujui? Tentu saja, tandatangan SBY diperlihat dalam pertemuan itu. Berarti sirnalah sudah harta rakyat dan bangsa Indonesia. Barangkali inilah “dosa SBY” dan dosa kita semua yang paling besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Sebab, bila SBY dan kita sepakat untuk paham akan hal ini, setidaknya ada geliat diplomatik tingkat tinggi untuk mencairkan aset sebesar itu. Lantas ada pertanyan; Sebodoh itukah kita? sumber: safari ANS

* Repost dari : safari ans email safari_ans@yahoo.com _*

Senin, 02 April 2012



Kantor DPRD Pemalang
Etimologi Aksara Djawa


HURUF

BACA

MAKNA HURUF

Ho
hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci

No
nur candra,gaib candra,warsitaning candara-pengharapan manusia agar selalu ke sinar Illahi

Co
cipto wening, cipto mandulu, cipto dadi-satu arah dan tujuan ke pada Yang Tunggal

Ro
rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati ada pada cinta kasih nurani

Ko
karsaningsun memayuhayuning bawono - hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam

Do
dumadining dzat kang tanpo winangenan - menerima hidup apa adanya

To
tatas, tutus, titis, titi lan wibowo - mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup

So
sifat ingsun handulu sifatullah- bentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan

Wo
wujud hono tan keno kiniro - ilmu manusia hanya terbatas tapi implikasinya bisa tanpa batas

Lo
lir handoyo paseban jati - mengarahkan hidup pada penyerahan total Illahi

Po
papan kang tanpo kiblat - gusti Allah tak jauh dari leher nadi kita

Do
duwur wekasane endek wiwitane - segalanya harus dimulai dari dasar

Jo
jumbuhing kawulo gusti - menyatu dengan kehendak Allah

Yo
Yakin marang samubarang tumindak kang wis dumadi - yakin atas kehendak Allah

Nyo
nyoto tanpo moto, ngerti tanpo diuruki - paham kodrat Ilahi

Mo
madep mantep manembah mring Ilahi - yakin /mantap menyembah Ilahi

Go
guru sejati sing muruki - belajar pada nurani

Bo
Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan pada gerak alam

Tho
tukul soko niat - sesuatu harus dimulai / tumbuh dari niat

Ngo
Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme manusia

Minggu, 01 April 2012

Kiai Makmur Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

PEMALANG - Tokoh ulama dan Bupati Pemalang yang hidup di masa revolusi (1906-1947), akan diusulkan menjadi pahlawan nasional. Untuk memulai proses itu, Pemkab melalui Kantor Kesejahteraan Sosial (Kesos) telah menyelenggarakan seminar membedah sejarah Kiai Makmur, Kamis (19/8) lalu.
Kepala Kesos Istianto mengatakan, saat ini nama tokoh itu baru dikenang masyarakat Pemalang dan sekitarnya sebagai pahlawan. Padahal, jasa-jasanya cukup besar bagi negara, terutama daerah Pemalang. "Oleh karena itu, kami adakan seminar untuk mengetahui sejauh mana tokoh tersebut, serta untuk menampung respons dan aspirasi masyarakat bila Kiai Makmur dikukuhkan sebagai pahlawan nasional," katanya kemarin.
Menurut buku Kiai Makmur yang ditulis Lektor Kepala pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Dr Suharto, Kiai Makmur ketika berumur 26 tahun pernah memimpin pesantren. Hal itu atas perintah KH Hasyim Asy'ari untuk mendirikan pesantren di tempat tinggalnya di Pelutan.
Santri pengikutnya datang dari berbagai daerah, di antaranya dari Grobogan (Purwodadi) yang bernama Tamyis. Kiai Makmur menikah dengan gadis bernama Samnah, anak H Mawardi, penghulu Taman yang berasal dari Tegal. Dulu dia tinggal serumah dengan mertuanya yang berada di sebelah selatan Masjid Jami Taman. Masjid itu berada di tepi jalan Beji-Banjardawa.
Memberi Kesadaran
Kiai Makmur diangkat sebagai Bupati Pemalang pada 30 Desember 1945, menggantikan Supangat yang ditangkap TKR dan dijebloskan ke penjara. Pengangkatannya sebagai Bupati ditandatangani Mr Sumarman, Sekretaris Jenderal Departemen Dalam Negeri yang saat itu berada di Yogyakarta.
Menurut staf pengajar Fakultas Sastra Undip Drs Agus Maladi Irianto MA, penulisan biografi Kiai Makmur oleh Dr Suharto, telah memberi kesadaran baru tentang ketokohan Kiai Makmur. Yaitu, sebuah sosok pribadi pemimpin pondok pesantren dan Bupati Pemalang.
Sejak lahir hingga meninggal karena dibunuh tentara Belanda, Kiai Makmur disebutkan sebagai tokoh yang berpendirian tegas dan konsekuen terhadap ucapan-ucapannya. "Namun, kehadiran seorang tokoh tidak bisa sengaja dipaksakan. Ia justru akan lahir sebagai anak kandung sejarah yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan dan fenomena sosial yang terjadi," katanya dalam seminar Kiai Makmur, Kamis (19/8).
Ditambahkan, seorang tokoh ideal tentu tidak sekadar diciptakan, tetapi justru lahir dengan sendirinya. Ia lahir karena prestasi maupun jasa-jasanya terhadap lingkungan masyarakat yang mendukung keberadaannya. (sf-74)

Salam | BlogLang | Bloggers Pemalang

Salam

Disunahkan mengawali menyapa (mengucakan salam) kepada sesama muslim. Hal tersebut menjadi disunahkan dikarenakan di dalam salam itu sendiri mengandung doa bagi orang yang kita salami. “Wahai manusia! Sebarkanlah salam, hubungkanlah tali silaturrahmi, berilah makan dan dirikanlah shalat malam di saat manusia tertidur lelap; niscaya kalian akan masuk surga dengan damai” (HR. Al-Tirmidzi).

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, suatu ucapan yang seringkali kita ucapkan kepada muslim lainnya dengan maksud memberikan salam kepadanya. Tetapi dibalik itu, apakah kita sebagai orang yang mengucapkan salam tersebut mengetahui apa yang kita ucapkan atau doakan kepada orang tersebut?

Adapun doa yang terkandung dari salam itu sendiri ada tiga doa, yaitu :

1. Assalamu’alaikum, doa pertama yang berarti semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu
2. Warahmatullahi, doa kedua yang berarti semoga engkau dirahmati Allah
3. Wabarakatuh, doa yang ketiga ini berarti semoga engkau diberikan barokah

Sehingga apabila ketiga doa ini disatukan, maka akan dijumpai seuntai doa yang sangat mulia yang diucapkan oleh seorang muslim kepada muslim yang lainnya, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh… Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu. Coba kita bayangkan apabila kita selalu menyapa saudara kita dengan doa yang begitu dan mulia seperti diatas, alangkah indahnya persaudaraan yang terjalin disertai doa-doa yang sangat mulia kepada sesama.

Diriwayatkan hadist dari Imran bin Husain Ra. yang berkata, “Seorang Arab pedalaman (a’rabi) datang kepada Nabi Muhammad SAW. dan mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Rasulullah menjawabnya, ia kemudian duduk. Rasulullah lantas berkata “Sepuluh” . Kemudian, datang yang lain dan mengucapkan “Assalamu’alaikum Warahmatullah”. Rasulullah menjawab, ia duduk. Rasulullah berkata “Dua puluh”. Kemudian datang lagi yang lain dengan ucapan “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Rasulullah menjawab, ia duduk dan Nabi SAW. berkata “Tiga puluh” (yakni tiga puluh kebaikan).”

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. berkata, “Hendaklah orang yang lebih kecil memberi salam kepada yang lebih besar darinya, orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan kaki, dan kelompok yang sedikit memberi salam kepada kelompok yang banyak” (Muttafaq ‘Alaih).

Di dalam sebuah hadist riwayat Bukhari Muslim disebutkan pula bahwa tidak diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, kecuali jika ia termasuk ahli bid’ah, kesesatan dan kemaksiatan yang justru dianjurkan untuk terus menjauhinya. Dengan salam, seorang muslim terbebas dari dosa mendiamkan orang muslim.

Dengan salam kita telah mendoakan orang-orang yang kita cintai secara langsung. Semoga dengan menyebarkan salam, ukhuwah yang telah ataupun baru akan terjalin dapat menjadi lebih erat dan diberkahi oleh Allah SWT.
Insya Allah, Amin ya Robbal Al Amin..


Sumber :
http://renunganhati.net/salam
   Sejauh mata memandang..tak lagi pula ku temukan sudut titik dari pencerahan yang kau tebarkan di semua penjuru Bumi Mu.. Aku masih duduk disini menghitung Nikmat Mu yang ku tahu takkan mungkin mampu kuhitung. Kututup mata sejenak tuk merenungkan semua ini..Aku sedang apa..? apa yang sedang aku lakukan saat ini...? tak ada tindakan yang meyakini sesuatu yang ku cari-cari. Aku kalah .. aku pasrah dan aku takkan mampu  membayang kan bila ku melayang dan terjatuh dari ketinggian yang ku panjat dengan keangkuhan.

SAMPAI KU RAIH CINTA KU

Pagi buta dengan sedikit sinar bulan yang mempesona mengikuti langkah Dinda yang nampak tergopoh-gopoh,bukan karena takut terlambat masuk kerja,tapi dia sedang mencari orang yang mau menololngnya untuk membawa ayahnya ke rumah sakit.
Tot….tot…. sebuah angkutan umum yang nampak di depan matanya.
Dinda segera menghentikan laju angkutan umum itu,’’mas..tolong Bantu aku bawa Bapk ku ke rumah sakit..!!!’’Dinda langsung masuk dan duduk di jok depan dengan supir angkutan tersebut.dengan high hiil yang masih nempel di kakinya,Dinda yang habis pulang kerja shiff malam kaget menemukan ayahnya yang jatuh dari atas ranjang.
Tempat ayahnya bersimpuh dan mengeluh karna penyakit lumpuh yang di deritanya.
Ada apa Din…???”Tanya serang cowok yang sudah berpakaian rapih.
“mas tolong Bantu aku angkat Bapak ke mobil...!!!” Bapak kamu kenapa Din..???
Bapak jatuh dari kamarnya semalam,.. Dengan titihan air mata,Dinda terus menatap dan menggenggam tangan ayahnya.Terasa kehangatan tangan jatuh di pundak Dinda,
Din kamu yang sabar yah ?semoga Bapak kamu tidak kenapa-kenapa..
Makasih mas Ari,sudah mau Bantu Dinda bawa Bapak ke rumah sakit…
Ah…ngga apa-apa,sesama tetangga kan harus saling Bantu.
Ari ikut mengantar pak Soleman menuju ruang UGD dengan sedikit merangkul Dinda agar lebih tegar.Ya..Pak Soleman adalah orang tua tunggalnya Dinda,dua tahun yang lalu ibu nya meninggal karena serangan jantung.sejak saat itu ayah nya pun sering sakit-sakitan.Dinda dan Ari duduk menunggu kabar  Pak Soleman.’’mas Ari ngga berangkat kerja…???’’tanya Dinda kepada cowok yang ikut membantu Bapaknya sampai ke rumah sakit.Dengan tersenyum Ari cuma menggelengkan kepala.’’maafin Dinda sudah ngerepotin mas Ari...!!” apa aku terlihat terpaksa melakukan semua ini..???Din aku juga punya orang tua,dan bila aku di posisimu aku juga pasti butuh orang yang mau membantu aku.’’tapi gara-gara nolongin Bapak,mas Ari jadi nda masuk kerja…’’itu bukan gara-gara Din..tapi itu semua adalah sebuah pilihan yang harus aku pilih
Ari beranjak dari tempat duduknya,lalu meninggalkan Dinda yang masih duduk termangu menunggu kabar tentang keadaan ayahnya.
Keluarga pak soleman…” iya sus saya anaknya…gimana sus keadaan Bapak?
Mba ke ruang administrasi dulu,ada obat yang harus mba tebus…”tapi Bapak nda kenapa-kenapa kan sus..???”ngga apa-apa mba,cuma memar dikit…
Ari langsung menghampiri Dinda yang sedang bersama seorang perawat,sambil membawa bungkusan.”gimana Din keadaan Bapak mu…???”nda tau mas…aku mau ke kasir dulu…’’tunggu Din…biar aku saja yang ke kasir,kamu temui dulu Bapak mu…!!!
Ari segera pergi ke kasir setelah menyerahkan bungkusan yang di bawanya ke Dinda.
“assalamu’alaikum…..”wa’alaikum salam…; dengan suara lirih pak soleman menjawab salam dari putrinya…”gimana kabar Bapak…udah lebih baikan…???
“maafin Bapak nak..Bapak nda bisa ngasih kamu apa-apa…Bapak bisanya nyusahin kamu..Jaga apa yang sudah pernah kamu miliki,jangan lupakan apa yang sudah pernah keluarga kita lalui bersama..”Bapak kok ngomongnya gitu sih…Dinda masih butuh Bapak.Sambil menangis tersedu Dinda memeluk tubuh yang sudah keriput itu…
“Pah…Bapak nda apa-apa kok..kata Dokter Bapak cuma butuh istirahat doang…
“assalamu’alaikum…tiba-tiba Ari masuk,sengaja ingin mencairkan suasana.
“wa’alaikum salam…oh…nak Ari toh,mari silakan masuk…! Apa nak Ari nda kerja..? ko sempat-sempat nya nengokin bapak…” iya pak sengaja nengokin bapak…gimana keadaan bapak…???”ya…begini nak’namanya orang sudah tua sering sakit-sakitan untung ada si Dinda yang sabar merawat bapak…”jangan ngomongin Dinda ya pah…!
Memang Dinda sering merasa canggung saat di puji.
“apa itu nak Ari…? Tanya pak Soleman melihat Ari bawa bungkusan obat…
“Oh…ini obat dari Dokter buat bapak,”ko nak Ari yang bawa…?”iya pak tadi sekalian,saya juga mau beli vitamin…”oh… kami jadi ngerepotin nak Ari..”nda apa-apa pak sesama tetangga harus tolong-menolong kan?
Sudah tiga hari pak soleman di rawat di rumah sakit,dan hari ini Dinda sendirian menjenguk ayah nya.
Dan kebetulan kata dokter hari ini pak Soleman sudah boleh pulang…
“assalamu’alaikum…”wa’alaikum salam….sini nak…! Bapak hari ini sudah boleh pulang..”beneran Pah…? ya udah Dinda ke kasir dulu…
Dinda ternyata minjam uang buat biaya rumah sakit ayahnya kepada Rentenir…
Sampai di rumah,dalam benak Dinda masih terfikirkan gimana cara bayar utangnya kepada rentenir.”Din….,suara pak Soleman membuyarkan fikiran nya…
Dinda bergegas masuk ke kamar ayahnya…”iya Pah… ada apa…???
“nak…kamu dapat uang segitu banyak dari mana..??? Dinda bingung mesti jawab apa,karna nggak mungkin untuk jujur.”ya dari tabungan Dinda dong Pah…! Dinda mencoba berbohong demi menjaga kesehatan ayahnya…
Hari masih cerah seperti kemarin.Dinda sudah rapi untuk berangkat kerja.
“ Pah…Dinda berangkat kerja dulu yaah..”yaah hati-hati.suara pak soleman menyahut.
Sampai didepan rumah,Ari sudah menunggu nya untuk berangkat bareng.
“loh mas Ari ko disini…?”kenapa..ngga boleh nungguin kamu???’’kebetulan nih dapat ojek gratis…ha.ha.. Dinda dan Ari semakin akrab mereka berangkat kerja bareng.
Memang benar Ari mengharapkan hati Dinda.Namun,Dinda tidak menyadarinya.
Mereka Sampai di depan tempat kerja Dinda.”Din nanti saya jemput yaah…?”loh emangnya mas Ari nda sibuk…”ngga ko…perasaan Ari mulai membuncah,dalam fikiran nya terbersit sebuah kata.Namun sulit untuk mengungkapkan nya.
Jam kerja sudah habis,Ari langsung menuju ke parkiran,untuk segera menjemput pujaan hati nya.Ari setia menunggu di depan kantor tempat kerja Dinda.tak lama kemudian Dinda muncul dengan rambut panjang nya yang terurai.Ari semakin terpesona.
“sore mas…wuah udah nunggu lama yaah…?Ari tak sadar kalau Dinda menyapanya.”wuayyy…mas…!!! ko bengong…?jadi nda nih ngasih tumpangan…?dengan gugup Ari menjawab.” Jadi dong.. masa sudah di sini ngga jadi sih…? Sampai di jalan Ari coba mengajak Dinda makan.”makan dulu yuk Din..!”mas Ari yang traktir…?”iya deh…” ya udah ok.. sampai di sebuah raistourant Dinda menceritakan semua yang ada dalam fikiran nya.Sebenar nya niat Ari ngajak makan Dinda agar bisa mengungkapkan isi hatinya..Namun,niat itu terurung saat Ari tahu masalah yang sedang di hadapi Dinda.”ok..aku coba Bantu Din..,tapi ngga janji…kata Ari dengan canda.
Ari sebenarnya pemuda dari Jakarta yang pindah ke Semarang.kini Ari dan Dinda semakin dekat.Ari semakin tak mampu memendam perasaan nya.”Din…kamu tahu,cinta itu tak harus di ucapkan dengan kata-kata,cinta juga dapat di ungkapkan dengan perhatian dan tingkah laku seseorang.”maksud mas Ari..?Dinda mencoba memperjelas.
Aku suka kamu Din..aku… aku cinta kamu…apa kamu tak tahu itu..?”aku tahu mas…tapi aku tak mau di fikir menerima cinta mas Ari,karna mau balas kebaikan mas Ari sama keluarga ku.cinta bukan sebuah melodi yang bila kita tahu kuncinya,kita dapat memainkan nya dengan mudah,cinta itu seperti awan yang terbentuk dengan sendirinya tanpa ada paksaan dari langit.aku ingin menemukan cinta yang datang seperti pelangi yang mampu menyatukan warna dengan begitu indah nya.
Sudahlah mas…aku tak ingin membahas masalah ini lagi.”tapi Din….Dinda bergegas meninggalkan Ari dengan segala harapan,harapan untuk meraih cinta Dinda.
 Assalamu alaikum…Dinda sudah sampai di depan rumah nya…wa’alaikum salam… pak Soleman menjawab.loh Din bukan nya tadi kamu pergi sama nak Ari…?” iya Dinda pulang duluan…”Din…Bapak tahu kedekatan kalian…apa kamu tidak menyukai nak Ari…?Dinda hanya terdiam seribu bahasa…”apa kamu sudah punya pilihan yang lain..? pak Soleman kembali menghujani pertanyaan kepada anak nya…Dinda tetap terdiam.
Nak…apapun pilihan kamu,Bapak hanya ingin melihat kamu bahagia dengan orang yang kamu sayang…”saat ini orang yang Dinda sayangi itu Bapak…Dinda mencoba menjawab.Dinda ingin tetap merawat Bapak…”Seharus nya bukan Bapak alasan kamu menolak laki-laki…sampai kapan kamu mau merawat Bapa?k,harus berapa banyak laki-laki yang kamu kecewakan?, apa dengan menikah kamu tak bisa merawat Bapak....?apa Bapak begitu merepotkan kamu…?”tidak Pah…Dinda bersimpuh menangis di pangkuan  pak Soleman yang masih duduk di kursi roda.” Nak kamu jagan menangisi keadaan Bapak sekarang,kamu harus cari kebahagiaan kamu sendiri,’’Dinda sudah bahagia bisa merawat Bapak setiap hari…”bukan itu maksud Bapak nak…usia kamu sudah cukup untuk menikah dan Bapak juga ingin melihat cucu Bapak sebelum nanti Bapak menutup usia…Dinda semakin tersedu mendengarkan perkataan ayah nya…” ya sudah…kamu mandi dulu terus nanti kita makan.Dinda segera mengusap air matanya lalu bergegas kebelakang untuk mandi.
Celotehan burung dan kokok ayam membangunkan Dinda dari tidurnya.Hari minggu yang cerah,seperti yang di harapkan pak Soleman yang sedang asik duduk di teras rumah sambil di temani Ari yang dari tadi sudah menemani pak Soleman ngobrol…
Dinda keluar dengan handuk yang masih diatas kepala…tanpa acuh Dinda menyapa keduanya…”Bapak sudah sarapan belum…? tanya Dinda kepada pak Soleman.”belum nak…kan Bapak lagi nungguin kamu…” ko Bapak nda bangunin dinda aja sih...?!” Bapak nda enak,kamu kelihatan nya letih banget…” ya udah Dinda siapin sarapan dulu yaah..” iyaah…sekalian sama nak Ari biar sarapan bareng…”ngga usah pak …sahut Ari basa-basi. Mereka kemudian sarapan bersama.Selesai sarapan pak Soleman pergi ke kamar nya untuk minum obat.”Din…temani nak Ari dulu yaah…? Dinda mengangguk.
“Din…hari ini kamu ada acara ngga…? Ari mencoba membuka percakapan.”nda ada mas…ada apa…? Tanya Dinda penuh ragu…”kita jalan-jalan yuk…?!”nda bisa mas Dinda mau jagain bapak di rumah…”kamu masih mikirin perkataan ku kemarin…? Dinda terdiam sejenak…”aku ngga akan memaksa kamu Din…aku cuma ingin membagi hatiku untuk mu,dan jika kamu memilih untuk menutup hatimu,apa hakku tuk mencegahnya…”mas… kasih aku waktu untuk meyakinkan perasaan ku sama mas Ari…!
“ok Din…aku akan menunggu untuk hal yang indah itu.
Pagi itu seperti biasa Ari sudah menunggu Dinda diatas motornya.” Berangkat bareng yuk Din…! Dinda tercengang melihat masih ada kesopanan Ari setelah dia mengecewakan nya,hanya senyuman hambar yang nampak di bibir merahnya.Pelan-pelan Dinda mulai merangkul dan duduk di belakang Ari.sepanjang jalan tak sepatah kata pun keluar dari bibir Dinda,sampai di depan gedung tempat kerja Dinda,Ari yang pertama membuka percakapan.”Din… nanti aku jemput kamu…”nda usah mas… “ngga apa-apa ko… “iya deh,makasih mas…Dinda masih memandangi Ari yang sudah semakin jauh meninggalkan nya.tiba-tiba Dinda di kejutkan oleh wanita yang menyeret tangan nya,
“ayo Din buruan masuk ke kantor…! Bergegas Dinda dan temannya berjalan dengan cepat menuju lobi kantornya.
Tak terasa tanda jam kerja habis memekakan telinga,Dinda dan karyawan lainya berhamburan keluar.sudah dua puluh menit Dinda menunggu Ari yang sudah janji mau menjemputnya,tak berapa lama hand phondnya berbunyi… “ assalamu alaikum…
Dinda terlihat kecewa,ternyata Ari tak bisa menjemputnya.entah alasan apa dia tidak tahu karena tiba-tiba HPnya mati.sesampainya di rumah Dinda bertambah kecewa mendapati seorang wanita sedang memegang erat kedua tangan Ari.”Dinda...Ari ingin menjelaskan apa yang telah di lihat oleh Dinda bukan  seperti apa yang difikirkan nya.
“Ari…aku ngga mau kita putus,”tapi Fi…kita sudah ngga cocok lagi,kamu sering bohongin aku,kamu duakan aku,dan herannya lagi kamu ngga mau ngaku meski aku sudah melihat dengan mata kepala ku sendiri,aku kecewa banget sama kamu tahu?
Sofi hanya bisa menangis.”Fi…lebih baik kamu pulang ke Jakarta,kita ngga bisa lagi balikan.sorry Fi..Sofi meninggalkan Ari dengan penuh kekecewaan.
Ari menghampiri rumah Dinda,”assalamu alaikum...”wa alaikum salam…pak Soleman menyahut.”Din…tolong bukain pintu,ada tamu.”iya Pah...!, Mas Ari…! ada perlu apa kesini?Aku ingin menjelaskan yang tadi.”nda perlu mas…”kamu marah?”aku nda berhak marah sama mas Ari…”Din tadi itu mantan aku,dia ingin balikan sama aku,tapi aku ngga mau.”kenapa?Dinda menyela.”aku ngga cinta sama dia…”terus kenapa kalian pacaran?Dinda terus memojokkan Ari.”udah malam mas,aku mau istirahat.Dinda beranjak dari tempat duduknya diikuti Ari yang nampak bingung dengan sikap Dinda yang berubah.”ya udah aku pulang dulu,assalamu alaikum…”wa alaikum salam…jawab Dinda seraya menutup pintu.
            Tengah hari,Dinda mendengar suara batuk dan rintihan dari kamar ayahnya.Dinda beranjak bangun dan langsung menuju ke kamar pak Soleman.”Pak …Bapak kenapa? Pak Soeman tak lagi mampu menjawab pertanyaan anaknya.Dinda beranjak keluar menuju ke sebuah kontrakan.”mas…mas Ari…tolongin Dinda mas…terdengar suara pintu yang dibuka.”ada apa Din?Dinda langsung menarik tangan Ari lari menuju ke kamar ayahnya.
“astaghfirulloh…Ari kaget melihat keadaan pak Soleman.”Din…cepat kamu ambil air wudhu dan bacakan surat yaasiin untuk Bapak mu.Baru separoh Surat Dinda membaca surat yaasiin,tiba-tiba Ari mengucapkan kalimat”inna lillahi wa inna illaihi rooji un… pak Soleman sudah tak lagi bernafas,pecahlah tangis Dinda mengiringi kepergian ayahnya.
Pak Soleman dikuburkan dekat dengan makam almarhumah istrinya.Ari menghampiri Dinda yang masih menangis diantara makam kedua orang tuanya,sambil sedikit merangkul,Ari berusha menenangkan nya.”Din …jangan kau tangisi kepergian Bapak mu,Beliau akan lebih tenang bila melihat anaknya bahagia,yang Beliau butuhkan saat ini bukan tangisanmu,tapi doa dari anak yang soleh dan solehah.Dengan mata yang berkaca-kaca,Dinda menatap wajah Ari.Dalam benaknya terbersit ucapan ayahnya yang ingin melihat Dinda menikah denga lelaki yang dicintainya.
         “ya Allah…diakah lelaki pilihanmu untuk ku…?
Diakah cinta yang ku cari selama ini…?
Diakah keindahan yang aku impikan…?
Sebelum aku rengkuh cinta ini,bersihkanlah hatiku dengan keikhlasan agar tak ada lagi kedengkian dan kenistaan dalam diriku…!!!
            Sepulang dari pemakaman,Ari tetap setia menemani Dinda yang sedang duduk terisak masih berlinangan air mata.Dinda masih begitu terpukul dengan kepergian pak Soleman untuk selamanya.”Din.. apa kamu akan terus menagisi kepergian Pak Soleman yang mungkin justru itu yang lebih baik buat Pak Soleman dari pada terus menerus menahan sakit yang semakin menggerogoti tubuh dan jiwanya?, Dinda menegakkan kepala sambil menatap kearah pemuda yang ada didepannya. Mas Ari gampang ngomong gitu karena Mas Ari tak pernah merasakan apa yang Dinda rasakan sekarang,Dinda nda mau hidup sendirian Mas,Dinda masih ingin bersama Bapak.Apa Mas Ari bisa merasakan apa yang Dinda rasakan saat ini?.”aku tahu Din...! Tahu apa ? “aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan saat ini Din,itu ngga jauh beda dengan perasaanku 12 tahun yang lalu,saat ayah meninggalkan kami.Cuma bedanya,ayah aku pergi bersama wanita lain yang lebih kaya dari pada ibu pada waktu itu,sedangkan kamu ditinggal ayah mu yang memeng sudah menjadi kehendak Yang Kuasa.Perasaanku begitu hancur pada saat itu,ingin rasanya aku lari menemui nya lalu aku tusuk dengan pisau sampai menembus jantungnya.Tapi apa dayaku aku cuma menangis sampai kusadari tangisanku hanya akan menjadi sia-sia jika aku tetap meratapi dan menangisi kepergian nya.Lalu aku berjanji tak akan pernah berani menyakiti perasaan wanita.”lalu yang kemarin Mas Ari lakuin itu apa bukan menyakiti perasaan wanita ?. Tiba-tiba Dinda menyela dengan nada menghakimi.”Maksud kamu kejadian yang kamu lihat seminggu yang lalu?. Ari balik bertanya kepada Dinda yang seakan-akan masih memendam rasa kekecewaan yang dalam terhadap Ari.” Sofi maksud kamu kan ? aku ngga ada niat buat menyakiti hatinya,justru dialah yang sudah menghancurkan perasaanku,yang mengecewakan kepercayaanku. Maksud Mas Ari ? Dinda bertanya dengan perasaan penasaran,apa yang terjadi dengan kisah cinta pemuda tampan yang ada didepannya.” Sofi menghianati cinta ku Din,dia selingkuh dibelakangku,pernah sesekali aku pergoki dia sedang bersama seorang lelaki,tapi ketika ku tanya baik-baik dia justru mengelak.Itulah sebabnya aku tinggalin dia dan pindah ke sini agar tak lagi bertemu dengan nya.Mendengar kisah cinta Ari rupanya sedikit membuat Dinda melupakan kesedihannya.Dinda terus memandangi Ari yang sedang menceritakan kisah cintanya.Mungkin dibenak Dinda bertanya-tanya,ko bisa pemuda tampan berwibawah seperti Ari dibuat kecewa sama seorang wanita,menurut Dinda pemuda tampan seperti Ari pantasnya menjadi seorang PlayBoy.
            Ari dan Dinda masih duduk di teras  rumah,mereka asyik bercerita,sampai suara klakson mobil membuyarkan mereka.Ternyata keluarga Pak Soleman yang datang dari Jogjakarta mendengar kabar dari Dinda yang mengatakan bahwa Bapaknya sekarang sudah tiada. Dinda langsung lari dan memeluk seorang laki-laki,yang bukan lain adalah pamannya sendiri,adik dari Pak Soleman.Sambil mengusap rambut Dinda laki-laki itu berkata “sabar yah Ndo mungkin itu sudah menjadi takdirnya Mas Soleman yang harus meninggalkan mu,tapi kamu jangan pernah merasa sendiri karena kamu masih punya kami,keluarga dari bapakmu,maukan kamu menganggap kami sebagai keluarga mu ?”.
Dinda tak dapat berkata apa-apa,dia hanya bisa mengangguk sambil terisak-isak meneteskan air mata untuk kesekian kalinya.Ari yang masih duduk cuma bisa memandangi mereka dengan mata yang ikut berkaca-kaca. ”itu siapa Ndo,pacar kamu?”  Tanya Om Cokro yang sempat melihat Dinda ngobrol asik sebelum kedatangan nya. ”bukan Om,dia temen Dinda yang tinggal didepan situ”,Dinda menjawab sembari mengusap air mata yang memenuhi pipinya.Dengan memberi senyuman hangat,Ari segera berdiri melihat Om Cokro yang menatap kearahnya.Dinda pun mengenalkan Ari kepada pamannya. “Om kenalin ini Ari,teman Dinda.Ari ini Om Cokro pamanku.Mereka berjabat tangan,lalu masuk menuju ruang tamu.Ari pun tak sungkan menemani keluarga pak Soleman yang datang dari Jogjakarta,Ari terlihat akrab dengan keluarga Om Cokro.Dinda pergi kedapur bersama sepupu perempuannya untuk membuat minuman,disela-sela kesibukan itu.Ayu ,sepupunya Dinda menanyakan Ari.Cowo tadi itu siapa Mba?. Dinda kaget mendengar pertanyaan dari sepupunya itu,rupanya dari tadiAyu memperhatikan Ari yang memeng lumayan tampan.”oh.. dia itu temennya Mba yang tinggal didepan rumah situ,kenapa emangnya ?kamu naksir yah ? ayo ngaku ! Dinda terus meledek Ayu,walaupun dalam hatinya Dinda berharap Ayu menjawab tidak. Ih.. nda Mba… masa baru ketemu langsung ngomong naksir ? tapi emang lumayan ganteng sih. Setelah selesai bercanda Dinda dan Ayu segera keluar mengantarkan minuman yang ditunggu-tunggu dari tadi oleh Ari dan keluarga Om Cokro
            Setelah lama mengobrol tak terasa suara Adzan mengingatkan Ari,bahwa hari sudah mulai sore,diapun bergegas minta ijin kepada Om Cokro untuk pulang.” Udah sore nih Om saya mau pulang dulu”, Oh gitu, ya sudah makasih ya Ri kami sudah bikin repot kamu ?! “ ah ngga apa-apa Om,hidup itu perlu saling tolong-menolong,lagian saya juga ngga merasa direpotkan. Setelah berpamitan kepada Om Cokro,Ari segera beranjak keluar rumah,sampai didepan pintu,Ari mersa ada yang memanggil. Mas Ari… nda pamitan nih sama Mba Dinda.. ? Ari terkejut mendengar suara Ayu yang seolah-olah sedang meledek Dinda. “oh iyah,sory hampir lupa,aku pamit pulang dulu Din..makasih atas suguhannya..! Iya Mas sama-sama,Dinda juga serig ngerepotin mas Ari. Dengan tersenyum bahagia Ari melangkah meninggalkan rumah pujaan hatinya.Hari itu merupakan satu kabahagiaan bagi Ari sekaligus hari yang sangat menyedihkan bagi Dinda wanita yang sangat ia harapkan mau membagi hati untuknya.
            Langit masih terlihat gelap,kabut putihpun masih tebal menyelimuti perkampungan tempat tinggal Ari sekarang.Dan seperti biasa,Ari sudah berpakaian rapi hendak berangkat kerja,dia melihat kerumah Dinda yang masih tertutup.Ari mengeluarkan motor yang biasa dibawanya ketempat kerja.Kontrakan Ari melewati rumah Dinda,dia berhenti di depan rumah Dinda,seperti biasa dia ingin berangkat kerja bareng Dinda. Sesosok wanita terlihat memmbuka pintu,tapi ternyata bukan Dinda yang keluar rumah,justru Ayu yang langsung menghampiri Ari yang seakan sudah menunggunya.”wah … kebetulan ada Mas Ari,mau berangkat kerja ya Mas? Iya…! Jawab Ari yang tak mengharapkan kehadiran Ayu.”Ayu boleh sekalian ikut nda Mas? Mau kepasar nih? Tapi aku mau brangkat kerja Yu…”kan bisa sekalian Mas? Ayu terlihat memaksa Ari yang sebenarnya sedang menunggu Dinda yang dari tadi belum juga terlihat. “ya sudah,ayo silakan naik…!  Pinta Ari kepada Ayu dengan perasaan terpaksa.Saat Ayu sudah berada diatas motor,tiba-tiba Dinda keluar dari rumah dengan pakaian yang rapi pula.Dinda terkejut melihat Ayu sudah berada diatas motor Ari dengan sedikit memeluknya. ”Dinda… aku kira kamu ngga masuk kerja? Tanya Ari dengan nada gugup. Ya sudah,Mas Ari anterin Ayu saja.Aku bisa naik angkot ko…! Kata Dinda dengan penuh kekecewaan.
            Ari melajukan motornya dengan perasaan tak enak terhadap Dinda yang memenuhi isi kepalanya.Sepanjang perjalanan,tak sepatah kata pun keluar dari  mulut Ari.Dalam fikirannya cuma ada pertanyaan-pertanyaan bagaimana nanti caranya menjelaskan kepada Dinda.Sampai ditempat kerja,Ari langsung menelpon Dinda.”Assalamu alaikum…! Din..kamu sudah nyampe belum?Belum,masih dijalan nih Mas…ada apa ? Ngga ada apa-apa.Nanti kamu aku jemput yah?Emangnya Mas Ari nda repot apa?Ya ngga dong…kan sekalian pulang bareng? Ya sudah,aku tunggu nanti. Ok,gitu dong. Ari merasa agak lega setelah mendengar suara Dinda yang terkesan tidak marah karna kejadian tadi.
            Hari sudah sore,setelah bubar kerja Ari langsung menuju ketempat kerja Dinda untuk menjemputnya.Sampai didepan kantor Dinda menyambutnya dengan senyuman yang sudah lama tak pernah terlihat di bibir Dinda,itu semakin membuat hatinya Ari berbunga-bunga.”Sore Non..! sudah siap? Kata Ari meledek Dinda. Sudah dong…! Jawab Dinda dengan senyuman yang masih tersisa dari bibir manisnya. Ok kalo gitu kita cabut…! Ari dan Dinda berlalu menyusuri jalan raya yang sudah terlihat gelap,dengan perasaan yakin Ari menghentikan motornya didepan sebuah rumah makan sederhana.
Din…kita makan dulu yuk…! Perutku sudah mulai lapar nih. Ok asal Mas Ari yang traktir yah? Ok,deh. Mereka duduk di satu tempat yang jauh dari pengunjung lainnya,sambil menunggu pesanannya datang mereka asik ngobrol.Disela-sela obrolan itulah,Ari mulai menanyakan lagi tentang perasaannya terhadap Dinda.
            Din,apa kamu tahu kenapa sang kumbang mendekati bunga yang sudah mekar ? Karena ingin menghisap madunya ! Jawab Dinda dengan lugunya.Bukan itu Din,tapi karena memang bunga yang memerlukan sang kumbang untuk berkembang biak.Maksud Mas Ari?Dinda bingung dengan pertanyaan itu.Gini Din,bunga memerlukan kumbang untuk membantunya berkembang biak,bagaimana dengan bunga yang ada didepan ku ini?Maksud Mas Ari aku? Dinda menunjuk kearah dadanya.Apakah sang kumbang akan selalu berada didekat sang bunga?Bagaimana kalau sang bunga sudah layu?Itukan cuma perumpamaan Din.Hidup bukan sebuah perumpamaan Mas,dan aku bukan bumga yang hanya memerlukan sang kumbang untuk berkembang biak saja,aku tak ingin seperti itu,aku ingin seperti langit dengan awan yang menaungi bumi hingga membeikan kedamaian tanpa mengenal lelah,aku ingin seperti ombak dilautan yang selalu bergerak bersama walau karang sering kali menjadi suatu penghalang. Ari hanya bisa tertunduk diam,seakan menyesali semua yang sudah dia katakana kepada Dinda.Sudah malam Mas,mari kita pulang !. Pinta Dinda kepada Ari yang masih terdiam memikirkan perkataannya tadi.
            Sampai ditengah jalanpun tak ada kata yang terucap dari bibir mereka bedua.Baru setelah sampai didepan rumah Dinda,dia yang mulai membuka pembicaraan. Makasih Mas,atas traktirannya.Sama-sama ! Din kamu ngga marahkan dengan ucapanku tadi ? Ngga !. Dinda menjawab sambil berlalu meninggalkannya.Ini kedua kalinya Dinda tak memberi kesempatan kepada Ari untuk mencoba membagi hatinya,walaupun sebenarnya Ari sangat mengharapkannya.Namun Ari tetep optimis dengan perjuangannya untuk meraih cinta sang pujaan hati. Entah apa yang membuat hati Dinda begitu keras,sangat tertutup untuk membuka hatinya buat laki-laki,sekalipun buat Ari yang sudah sangat banyak membantu keluarganya.